Senin, 08 November 2010

Djaenoedin


Djaenoedin anak bungsu, dari empat bersaudara, tiga laki-laki dan satu wanita. Beliau dilahirkan di Ciruas (Banten) pada tanggal 21 Januari 1896. Semasa kanak-kanak sibungsu dikenal nakal dan bandel, baik dirumah maupun dikampungnya. Gemar menyabung ayam aduannya mungkin sekarang adalah ayam bangkok dengan ayam-ayam yang sedang berkeliaran milik tetangga, tanpa diketahui pemiliknya. Orang tuanya menginginkan ia menjadi pegawai pamong praja. Ia disekolahkan di Europese Lagere School Serang, lalu melanjutkan di OSVIA, sekolah untuk calon “ambtenaar” atau PNS Depdagri sekarang. Setelah lulus dari OSVIA ( 1914 ) menghadap Residen Beding di Serang untuk ´mel´ atau melapor. Disana tidak duduk bersila sebagaimana dituntut oleh adat. Akibatnya ia diusir dan dicaci maki `Kanjeng Residen` : “Kwajongen, pergi kamu...!”. Memang beliau tidak suka dengan suasana ´nuwun-hinggih´ terhadap atasan dijaman kolonial. Djaenoedin setelah menikah meneruskan pelajarannya pada NIVS (Nederlandsch Indische Veeartsen School) Buitenzorg ( Bogor ). Menjadi Dokter Hewan tadinya bukan yang diidam-idamkannya, tapi lama kelamaan ilmu ini menarik juga baginya. Bagi Prof. Drh. Djaenoedin semasa kerja di kantornya satu-satunya cara yang “relax” adalah memelihara taman dekat laboratoriumnya, disamping itu beliau menimang ayam aduannya yang dibawa dari rumahnya dan dikandangkan dekat tempat kerjanya, tapi bukan untuk diadu hanya untuk dipandang. Di rumahnya terdapat beberapa ayam bangkok kebanggaannya dengan bentuk tubuh yang proposional. Banyak penggemar ayam Bangkok di Bogor yang datang minta nasihat merawat ayam agar sehat prima dan siap tanding. Diakhir hayatnya beliau tinggal di putra tertuanya Uko Sungkono ( Semeru BOGOR ), kegemarannya suka mencabuti rumput-rumput liar, terutama alang-alang pasti diberantas sampai akarnya dan membakar sampah. (dari L. Gan Ks. Majalah INTISARI Okt´67)
& (dipublikasikan kembali oleh Johnny Suyudi)








Djaed demikian sering menjadi nama panggilan dari Drh. R. Djaenoedin, putra terakhir dari pasangan Sumardi Prawiranata bin R. Ngt. Sosrodiwiryo dengan Kamsi binti R. Ponodirdjo, sejak kecil memang senang mengenakan pici. Karena beliau tinggal di daerah Ciruas, +/- 17 KM dari Kota Serang – BANTEN, teman bermain adalah tetangga kampung disekitar rumahnya, jadi bukan karena anak sekolah pesantren. Beliau oleh orang tuanya disekolahkan di Europese Lagere School, pertama kali masuk memakai pici, tapi pici itu dibuang keluar oleh teman-temannya, karena pici khas melambangkan orang pribumi, bukan dari golongan ningrat.
Beliau sekolah dokter hewan (NIVS) di Buitenzorg (Bogor), karena tidak mau disekolahkan di sekolah calon ambtenaar untuk menjadi pegawai Pamong-Praja (PNS Pemda). Setelah bekerja dan terakhir menjabat Direktur LPPH di Bogor pici tak pernah tertinggal dikenakannya. Ada yang menarik dari cerita bekas anak buahnya, kalau ada yang tidak berkenan terhadap pegawainya (marah) di hati Bosnya, maka terlihat picinya mulai miring..............

Pengabdiannya...


Hampir seluruh dedikasi hidupnya Prof. Drh. Djaenoedin dicurahkan kepada ilmu kedokteran hewan dengan cara pendidikan, penelitian dan penyuluhan untuk mempertinggi pengetahuan mencegah penyakit hewan dan menyempurnakan kesuburan peternakan. Dalam hal ini hasil karyanya ditulis dan dimuat didalam majalah “ Nederlands-Indische Bladen voor Diergeneeskunde ”.
Pada tahun 1949 nama madjalah itu diganti menjadi `Hemera Zoa´, dengan dewan redaksinya diketuai oleh Drh. R. Djaenoedin sendiri. Essay ilmiah itu meliputi masalah-masalah yang melingkupi penyakit-2 kuda, babi, kerbau, kambing, ayam, manusia dsb. Prestasi karya Drh. Djaenoedin itu telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa asing, majalah-2 terbitan luar-negeri dan memperoleh penghargaan international. Karya-karyanya adalah hasil laporan selama menjadi asisten Prof. DR. Kraneveld, dimana kesempatan studi dan praktek secara empiris sangat luas. Risalah pertama yang ditulis yaitu „De witte bloedlichaampjes van de karbouw“. Selama ini tidak kurang dari 82 buah karangan ilmiahnya dimuat dalam majalah ilmu tersebut diatas sejak tahun 1928 sampai 1960.
Dijaman penjajahan Jepang di Indonesia Veeartsenijkundig Instituut (Lembaga Kedokteran Hewan) dipegang oleh tenaga-2 Jepang. Namanya diganti menjadi Balai Penyelidikan Penyakit Hewan. Setelah kapitulasi Jepang BPPH diteruskan oleh Pemerintahan RI dan Drh. Djaenoedin diangkat menjadi kepalanya. Nama balai itu kemudian diubah menjadi Lembaga Pusat Penyakit Hewan, sekarang bernama Bbalitvet. Semasa aksi polisionil Belanda tahun 1947, BPPH diserbu NICA (Belanda) dan didudukinya. Tapi Drh. Djaenoedin berhasil menuntutnya kembali. dan BPPH serta sebagian labotariumnya dapat dipindahkan ke Klaten, kemudian diserahkan kepada Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Gadjah Mada di Jogjakarta.
Pada bulan Maret 1946 Pemerintahan RI membentuk Panitia Pendirian Sekolah Dokter Hewan Tinggi, dimana Drh. Djaenoedin sebagai anggotanya. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kemakmuran RI No. 1280/a/Per Tgl. 20 Sep. 1946 didirikan Perguruan Tinggi Kedoteran Hewan (PTKH), oleh Pemerintah RI Drh. J.F. Mohede ditunjuk sebagai ketuanya. Sementara Drh. Djaenoedin diangkat sebagai guru-besar (luar biasa). Jadi disamping menjadi Kepala BPPH masa itu Drh. Djaenoedin juga menjadi Profesor yang pertama pada perguruan tinggi tersebut. Menjelang akhir tahun 1956, Pemerintah mengizinkan untuk mulai membangun sebuah gedung baru, sebagai tambahan dari Lembaga Virologi. Gedung baru ini cukup memadai bisa menampung peralatan dan mesin-2 besar untuk mengering-bekukan vaksin antara lain vaksin ND dan vaksin Rabies. Pada tanggal 26 Juli 1958 gedung tersebut diresmikan penggunaannya oleh Prof. Drh. R. Djaenoedin pada saat memperingati 50 tahun berdirinya LPPH. Pidato jubilium 50 tahun lembaga tersebut terdapat di Majalah Hemera Zoa tahun 1958 edisi 65.Jika Lembaga Penyakit Hewan dapat terus berdiri dan menjadi milik bangsa Indonesia sampai sekarang, antara lain adalah berkat keikhlasan Drh. Djaenoedin dalam memupuk dan membimbing tenaga-tenaga ahli muda yang diharapkan bisa meneruskan dan mempertahankan berdirinya Lembaga tersebut.
(Diambil dari Majalah Intisari Oktober 1967, Seratus Tahun (1908-2008) Bbalitvet Bogor, Kumpulan Karangan Ilmiah dari LPPH dan Sejarah Dokter Hewan dari website FKH-UGM dan kembali dipublikasikan oleh Johnny Suyudi)

Kumico & Cinta Kasih


Abing nama populer dari Mochammad Hakim adalah putra dari R. H. Suparto bin R. Prawirasudirdja (keponakan dari R. Djaenoedin). Ia menjuluki mbah`Djaed dengan panggilan pak Kumico. Diwaktu jaman Jepang, Kumico adalah Kepala Kampung atau jaman sekarang ketua RT/RW. Memang benar Djaenoedin dan istrinya Djohanah Dalfah sering mengumpulkan kerabatnya seperti keponakan atau cucu dari kakaknya, juga cucu dari iparnya. Untuk itu rumah di Ciwaringin selalu terasa hangat dan ramai dengan rasa kekeluargaan.
.
.
.
.

Bermula dari Darna (R.Sudarna Prawirasudirdja) akan mengunjungi saudara sepupunya R. Achmad (putra satu-2nya R. Wahid Prawirasupradja) ke Kiara Payung ( CIANJUR ).
Beliau mengajak adik iparnya Dalfah (Nyi Mas Djohanah Dalfah), diperjalanan mampir dulu ketempat kost Djaed (R.Djaenoedin) adik bungsunya di Bogor. Melihat kakaknya mau ke Cianjur, Djaenoedinpun ikut serta, mungkin karena menjadi teman diperjalanan maka benih cintapun mulai berkembang.
Dan sewaktu akan pulang ke Pandeglang ( BANTEN ) rupanya Djaenoedin ingin mengantarkannya, tapi dilarang ikut oleh kakaknya Darna karena Djaed masih kuliah di NIVS di Bogor. Tapi hubungan tetap berlanjut melalui surat menyurat, dan diwaktu liburan selalu menyempatkan diri pulang ke Pandeglang. Khabsah (Nyi Mas Siti Khabsah) istri Sudarna melihat hubungan adiknya dengan adik iparnya semangkin dekat, maka menyetujui untuk melanjutkan hubungannya kejenjang pernikahan, tapi karena masih senang mengurus keponakan-2nya ia menolak. Khabsah minta pertolongan suami untuk membujuk adik iparnya Dalfah, akhirnya luluhlah hati Dalfah.
Setelah menikah Djaenoedin tetap kuliah di Nederlandsch Indische Veeartsen School di Buitenzorg atau Kota Bogor sekarang.
( nara-sumber mbah´Dalfah, kembali diriwayatkan oleh Johnny Suyudi )

Jumat, 29 Oktober 2010

Kenapa NataDipura......?


NataDipura adalah TOKOH FIKTIP, gabungan dari nama prawiraNATA dan tjakraDIPURA.
Kami memadukan 2 keluarga yaitu keluarga besar Prawiranata dengan keluarga besar Tjakradipura, karena ada pernikahan 2 putra dari keluarga Prawiranata dengan 2 putri keluarga Tjakradipura. Kakaknya dengan kakaknya yaitu Sudarna Prawirasudirdja dengan Siti khabsah, kemudian adiknya dengan adiknya yaitu Djaenoedin dengan Djohanah Dalfah. Dengan perkawinan mereka maka berkembang dan dikaruniai hingga ratusan saat kini ( thn´2010 ). Karena sudah lama tidak terdata, maka pencarian silsilah ini menempuh jalan panjang & berliku hingga ke keluarga lain yang masih ada hubungannya. Mari kita yang termasuk dalam keluarga, baik itu keluarga dekat dan jauh, maupun yang masih ada hubungan keluarga berpartisipasi, baik sumbang saran atau apalah, dari keluarga untuk keluarga............. Dengan demikian pengelola TJAKRADIPURA@PRAWIRANATA mengucapkan banyak-banyak terima kasih. (Johnny Suyudi)

Kamis, 28 Oktober 2010

Pengantar


Kita tidak mungkin kembali ke masa lalu, karena masa lalu bagian dari sejarah, bagian dari nostalgia dan menjadikan motivator untuk yang akan datang. Masa depan sangat bergantung dengan apa yang dilakukan oleh kita disaat ini, untuk itu bila kita tahu akan RIWAYAT LELUHUR kita walau sedikit apapun, mari KITA ABADIKAN dan itu akan menjadi pembelajaran bagi generasi yang akan datang....................