Senin, 08 November 2010

Kumico & Cinta Kasih


Abing nama populer dari Mochammad Hakim adalah putra dari R. H. Suparto bin R. Prawirasudirdja (keponakan dari R. Djaenoedin). Ia menjuluki mbah`Djaed dengan panggilan pak Kumico. Diwaktu jaman Jepang, Kumico adalah Kepala Kampung atau jaman sekarang ketua RT/RW. Memang benar Djaenoedin dan istrinya Djohanah Dalfah sering mengumpulkan kerabatnya seperti keponakan atau cucu dari kakaknya, juga cucu dari iparnya. Untuk itu rumah di Ciwaringin selalu terasa hangat dan ramai dengan rasa kekeluargaan.
.
.
.
.

Bermula dari Darna (R.Sudarna Prawirasudirdja) akan mengunjungi saudara sepupunya R. Achmad (putra satu-2nya R. Wahid Prawirasupradja) ke Kiara Payung ( CIANJUR ).
Beliau mengajak adik iparnya Dalfah (Nyi Mas Djohanah Dalfah), diperjalanan mampir dulu ketempat kost Djaed (R.Djaenoedin) adik bungsunya di Bogor. Melihat kakaknya mau ke Cianjur, Djaenoedinpun ikut serta, mungkin karena menjadi teman diperjalanan maka benih cintapun mulai berkembang.
Dan sewaktu akan pulang ke Pandeglang ( BANTEN ) rupanya Djaenoedin ingin mengantarkannya, tapi dilarang ikut oleh kakaknya Darna karena Djaed masih kuliah di NIVS di Bogor. Tapi hubungan tetap berlanjut melalui surat menyurat, dan diwaktu liburan selalu menyempatkan diri pulang ke Pandeglang. Khabsah (Nyi Mas Siti Khabsah) istri Sudarna melihat hubungan adiknya dengan adik iparnya semangkin dekat, maka menyetujui untuk melanjutkan hubungannya kejenjang pernikahan, tapi karena masih senang mengurus keponakan-2nya ia menolak. Khabsah minta pertolongan suami untuk membujuk adik iparnya Dalfah, akhirnya luluhlah hati Dalfah.
Setelah menikah Djaenoedin tetap kuliah di Nederlandsch Indische Veeartsen School di Buitenzorg atau Kota Bogor sekarang.
( nara-sumber mbah´Dalfah, kembali diriwayatkan oleh Johnny Suyudi )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar