
Hampir seluruh dedikasi hidupnya Prof. Drh. Djaenoedin dicurahkan kepada ilmu kedokteran hewan dengan cara pendidikan, penelitian dan penyuluhan untuk mempertinggi pengetahuan mencegah penyakit hewan dan menyempurnakan kesuburan peternakan. Dalam hal ini hasil karyanya ditulis dan dimuat didalam majalah “ Nederlands-Indische Bladen voor Diergeneeskunde ”.
Pada tahun 1949 nama madjalah itu diganti menjadi `Hemera Zoa´, dengan dewan redaksinya diketuai oleh Drh. R. Djaenoedin sendiri. Essay ilmiah itu meliputi masalah-masalah yang melingkupi penyakit-2 kuda, babi, kerbau, kambing, ayam, manusia dsb. Prestasi karya Drh. Djaenoedin itu telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa asing, majalah-2 terbitan luar-negeri dan memperoleh penghargaan international. Karya-karyanya adalah hasil laporan selama menjadi asisten Prof. DR. Kraneveld, dimana kesempatan studi dan praktek secara empiris sangat luas. Risalah pertama yang ditulis yaitu „De witte bloedlichaampjes van de karbouw“. Selama ini tidak kurang dari 82 buah karangan ilmiahnya dimuat dalam majalah ilmu tersebut diatas sejak tahun 1928 sampai 1960.
Dijaman penjajahan Jepang di Indonesia Veeartsenijkundig Instituut (Lembaga Kedokteran Hewan) dipegang oleh tenaga-2 Jepang. Namanya diganti menjadi Balai Penyelidikan Penyakit Hewan. Setelah kapitulasi Jepang BPPH diteruskan oleh Pemerintahan RI dan Drh. Djaenoedin diangkat menjadi kepalanya. Nama balai itu kemudian diubah menjadi Lembaga Pusat Penyakit Hewan, sekarang bernama Bbalitvet. Semasa aksi polisionil Belanda tahun 1947, BPPH diserbu NICA (Belanda) dan didudukinya. Tapi Drh. Djaenoedin berhasil menuntutnya kembali. dan BPPH serta sebagian labotariumnya dapat dipindahkan ke Klaten, kemudian diserahkan kepada Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Gadjah Mada di Jogjakarta.
Pada bulan Maret 1946 Pemerintahan RI membentuk Panitia Pendirian Sekolah Dokter Hewan Tinggi, dimana Drh. Djaenoedin sebagai anggotanya. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kemakmuran RI No. 1280/a/Per Tgl. 20 Sep. 1946 didirikan Perguruan Tinggi Kedoteran Hewan (PTKH), oleh Pemerintah RI Drh. J.F. Mohede ditunjuk sebagai ketuanya. Sementara Drh. Djaenoedin diangkat sebagai guru-besar (luar biasa). Jadi disamping menjadi Kepala BPPH masa itu Drh. Djaenoedin juga menjadi Profesor yang pertama pada perguruan tinggi tersebut. Menjelang akhir tahun 1956, Pemerintah mengizinkan untuk mulai membangun sebuah gedung baru, sebagai tambahan dari Lembaga Virologi. Gedung baru ini cukup memadai bisa menampung peralatan dan mesin-2 besar untuk mengering-bekukan vaksin antara lain vaksin ND dan vaksin Rabies. Pada tanggal 26 Juli 1958 gedung tersebut diresmikan penggunaannya oleh Prof. Drh. R. Djaenoedin pada saat memperingati 50 tahun berdirinya LPPH. Pidato jubilium 50 tahun lembaga tersebut terdapat di Majalah Hemera Zoa tahun 1958 edisi 65.Jika Lembaga Penyakit Hewan dapat terus berdiri dan menjadi milik bangsa Indonesia sampai sekarang, antara lain adalah berkat keikhlasan Drh. Djaenoedin dalam memupuk dan membimbing tenaga-tenaga ahli muda yang diharapkan bisa meneruskan dan mempertahankan berdirinya Lembaga tersebut.
(Diambil dari Majalah Intisari Oktober 1967, Seratus Tahun (1908-2008) Bbalitvet Bogor, Kumpulan Karangan Ilmiah dari LPPH dan Sejarah Dokter Hewan dari website FKH-UGM dan kembali dipublikasikan oleh Johnny Suyudi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar