Riwayat (1)


Prawiranata semasa kecilnya bernama Sumardi, adalah putra ke 4 ( dari 9 bersaudara). R.Ngt.Sosrodiwirjo  al Hadji Moch. Djen. Bapaknya adalah assisten wedana di Ngaringan (Jawa-Tengah).     Juga sebagai cucu R, Kertodiwirjo bin Ngabehi Prawirosentono kaping II yang menjadi lurah di Panjunan (Grobogan / JATENG).    Keberadaannya di daerah Banten karena menjadi pelarian dari Jawa Tengah  diantaranya   bersama 2 saudaranya yaitu  R. Wahid Prawirasupradja dan R. Prawiro (?). Beliau keturunan ke 12 dari Ki Ageng Selo <Kyai Ageng Abdulrachman / Bagus Songgom>, yang menurut legenda di Tanah Jawa adalah orang sakti yang dapat menangkap petir. Sedangkan Ki Ageng Selo sendiri adalah cucu dari R.. Bondan Kedjawan, putra Prabu Brawidjaja V ( Raja Majapahit yang terakhir) dengan putri Wandan Kuning. R.Bondan Kedjawan yg mendapat julukan Lembu Peteng / Kyai Ageng Tarub II, menikah dengan Dewii Nawangsih, putri dari Djaka Tarub yang terkenal dengan legendanya dapat mencuri selendang seorang bidadari yang turun ke Bumi untuk mandi ,bernama Dewi Nawangwulan dan kemudian memperistrikannya. Prawiranata bekerja di Kewedanaan Cikande, diangkat sebagai assisten wedana Cikande yang berkedudukan di Kragilan (BANTEN). Wafat dalam usia tidak terlalu tua, karena kecelakaan dengan kuda/ delman. Sebagai pengganti Orang Tua bagi anak-anaknya adalah adiknya R. Wahid Prawirasupradja (wedana Anyer di BANTEN) dikenal sebagai mbah Sempu.   Di Makamkan di Pemakaman Umum, KEDALINGAN – SERANG.   Disebelahnya terdapat makam istrinya Kamsi, cucunya (dari R.Suhaeni & R. Suradji) R.Sutrisno dan adik iparnya Fatmah (istri Wardojo / Bojong Manik, ibu kandung Buntarman), dan suaminya Wardojo. (diriwayatkan kembali oleh Johnny Suyudi)







Sampai sekitar tahun 70an, cucu2nya hanya sering menyebut bahwa kakeknya adalah Demang Katjung.   Saya waktu itu penasaran karena nenek (mbah) Dalfah sebagai anaknya masih ada dan saya menanyakan nama sebenarnya.  Demang Katjung itu siapa?   Mbah´Dalfah bilang namanya Tjakradipura (per-mas). Katanya ayahnya itu (Mas Tjakradipura) itu sebagai demang  ( lurah/carik ) di daerah Lebak (Banten Selatan) . Masa muda/kecilnya tidak banyak diketahui oleh keturunannya, waktu itupun saya salah tidak banyak menggali riwayat beliau.
Baru sekitar tahun 80an salah satu cucunya (Mas Hulman), beliau bercerita bahwa kakeknya beserta kedua putranya Anwar (Dudut) & Gaos (Atje) pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, dan setelah itu beliau merubah namanya Haji Mochammad Ali.  Dan diceritakan juga bahwa  adik dari Demang Katjung yaitu Nyi Rahimah menikah dengan Mantri Liman, yang meninggal pada pemberontakan di Peristiwa ( Geger ) Cilegon.

H. Mas Tjakradipura wafat di Serang dan dimakamkan di Pemakaman Buah Gede – SERANG. Disini pula terdapat makam istrinya Nyi Bunder (Ramlah) & salah satu mantunya Raudoh. Makam istri terakhir Hj. Nyi Fatimah (dikenal Nyi Haji Fatimah) terdapat di belakang Mesjid Agung Ar-Rahman - Pandeglang.  (diriwayatkan dari berbagai sumber & dipublikasikan oleh Johnny Suyudi)








Prawira Supradja lengkapnya bernama R. Wahid Prawirasupradja, berasal dari Jawa Tengah, atau tepatnya daerah Grobogan. Bapaknya adalah R. Ngt. Sosrodiwirjo Al Haji Moch. Djen, yang menjadi Assisten Wedana Ngaringan (Jawa Tengah). Beliau merantau bersama kakak-kakaknya yaitu R. Sumardi Prawiranata dan R. Prawiro (?), ke daerah Banten, menurut istri keponakannya (Nyimas Djohanah Dalfah) beliau menjadi pelarian, karena dari Grobogan membawa alat-alat perang seperti keris dan tombak. Di Banten sukses hingga menjadi Wedana Anyer dan menjadi bapak asuh bagi keponakannya, karena kakaknya wafat dalam usia muda. Di hari tuanya beliau dikenal dengan mbah’Sempu, wafat di daerah Serang, dan dimakamkan di pemakaman Ki’Udju Kaujon Serang Banten. (narasumber : suami dari keponakannya R. Suradji) & (diriwayatkan kembali oleh Johnny Suyudi)



ccc






Nyai Ageng Kasreman manggih jabang bayi wonten ing dangan pasareanipun ingkang raka Kyai Ageng Kasreman, kaparing nami Djaka Tarub. Djaka Tarub krama angsal widadari nami Dewi Nawangwulan. Djaka Tarub  peputro satunggal putri, nami Dewi Nawangsih. Dewi Nawangsih lajeng krama angsal Raden Bondan Kedjawan (putro nata ing Majapahit / Sinuhun Brawidjaja).